
Gadget, terutama smartphone dan laptop, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan akademik mahasiswa. Fungsinya meliputi mengakses materi kuliah, berkomunikasi dengan dosen dan teman sekelas, hingga sebagai alat penunjang tugas riset. Namun, di balik manfaat yang tak terbantahkan ini terdapat pola penggunaan yang secara konsisten akan mengkhawatirkan, yaitu durasi yang berlebihan, tanpa jeda, tanpa henti dan seringkali terus menerus digunakan hingga larut malam.
Masalahnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, tetapi pada pola penggunaannya. Ketika penggunaan gadget melebihi batas yang dapat ditoleransi oleh tubuh dan sistem kognitif manusia, konsekuensinya tidak hanya terbatas pada kelelahan sementara, tetapi juga bermanifestasi sebagai gangguan fisik yang terukur dan terdokumentasi secara ilmiah, serta penurunan fungsi intelektual. Artikel ini mengkaji dua dimensi dampak tersebut: kesehatan fisik dan konsentrasi selama belajar, dan menawarkan solusi berbasis bukti.
Dampak terhadap kesehatan fisik, yaitu dari postur hingga gangguan tidur
Dampak fisik paling langsung dari penggunaan gadget yang berlebihan adalah gangguan muskuloskeletal. Saat menggunakan smartphone, orang cenderung menundukkan kepala dan membungkukkan bahu dalam waktu lama. Postur ini memberikan tekanan mekanis yang signifikan pada bahu, leher, siku, dan pergelangan tangan.
Sebuah studi cross-sectional yang diterbitkan dalam Scientific Reports (2025), yang melibatkan mahasiswa kedokteran dan keperawatan, mengungkapkan bahwa satu dari tiga peserta mengeluh sakit kepala, diikuti oleh kelelahan mata pada sekitar 30% akibat penggunaan smartphone yang berlebihan. Studi lain yang lebih luas, sebuah tinjauan literatur sistematis, melaporkan bahwa masalah muskuloskeletal terkait perangkat elektronik pada orang dewasa berkisar antara 8% hingga 89%, termasuk nyeri punggung dan kelelahan mata, yang disebabkan oleh ketidakstabilan postur dan pengerahan otot yang berlebihan.
Masalah kesehatan serius lainnya adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh paparan cahaya biru dari layar gadget. Secara fisiologis, cahaya biru dengan panjang gelombang 400-500 nm telah terbukti mengganggu ritme sirkadian dan menekan produksi melatonin oleh sel ganglion retina, yang sensitif terhadap panjang gelombang ini. Penelitian yang dilakukan oleh Harvard University menunjukkan bahwa cahaya biru menekan produksi melatonin selama kurang lebih dua kali lebih lama daripada cahaya hijau dengan kecerahan yang setara, sehingga menyebabkan pergeseran ritme sirkadian selama tiga jam.
Implikasi praktisnya sangat nyata bagi mahasiswa yaitu, paparan layar gadget di malam hari secara langsung menunda waktu tidur, memperpendek durasi tidur, dan mengurangi kualitas tidur secara keseluruhan. Ini bukan hanya tentang merasa mengantuk keesokan harinya, tetapi ini mengganggu salah satu mekanisme biologis paling mendasar dari tubuh manusia.
Dampak terhadap Konsentrasi Belajar
Hubungan antara penggunaan gadget yang berlebihan dan penurunan konsentrasi selama belajar bukanlah sekadar anekdot, hal ini telah menjadi subjek penelitian sistematis di berbagai lembaga akademik di seluruh dunia.
Setiap kali seorang siswa mengalihkan perhatiannya dari materi pelajaran ke gadget, otaknya membutuhkan waktu untuk kembali fokus pada tugas semula. Proses ini diulang beberapa kali selama satu sesi belajar, yang menyebabkan kelelahan kognitif kumulatif yang mengurangi kapasitas pemrosesan informasi, memori jangka pendek, dan kemampuan penalaran.
Hal ini diperparah oleh gangguan tidur yang disebutkan sebelumnya. Sebuah studi yang dilakukan dengan mahasiswa di sebuah universitas ilmu kesehatan mengungkapkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan di malam hari mengakibatkan mahasiswa tidak dapat berkonsentrasi di kelas keesokan harinya, sering mengalami kantuk di siang hari, dan kesulitan berpikir rasional tentang masalah. Dengan kata lain, efek negatif perangkat elektronik terhadap konsentrasi selama belajar tidak hanya bertahan selama penggunaan tetapi juga berlanjut hingga keesokan harinya karena penurunan kualitas tidur.
Paradoks yang sering diabaikan adalah banyak mahasiswa yaitu menggunakan gadget untuk tujuan akademis yang sah yaitu, mengakses e-book, berpartisipasi dalam diskusi kelompok belajar, atau menyelesaikan tugas digital. Namun, ketika aktivitas ini dilakukan secara bersamaan, pola penggunaan ini justru mengurangi kapasitas kognitif yang dibutuhkan untuk mengasimilasi dan memproses materi yang diakses.
Ini bukan berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya, tetapi lebih kepada menggunakannya dengan kesadaran penuh akan batasan biologis dan kognitif tubuh.
Mengelola penggunaan gadget bukanlah tentang pembatasan moralistik, melainkan strategi yang didasarkan pada pemahaman tentang cara kerja tubuh dan otak manusia.
Pertama, terapkan prinsip digital hygiena secara konsisten. Salah satu rekomendasi yang didukung secara ilmiah adalah menghindari paparan layar setidaknya dua hingga tiga jam sebelum tidur. Harvard Health merekomendasikan untuk menghindari layar terang dua hingga tiga jam sebelum tidur.
Kedua, terapkan metode seperti Pomodoro Technique, yang melibatkan bekerja selama 25 menit tanpa gangguan digital, diikuti dengan istirahat lima menit. Metode ini terbukti efektif dalam menjaga konsentrasi selama sesi belajar. Selama sesi ini, notifikasi harus dimatikan sepenuhnya.
Ketiga, perhatikan pengguna gadget lainnya. Memposisikan layar setinggi mata, menggunakan penyangga laptop, dan melakukan peregangan leher dan bahu setiap 30-45 menit dapat secara signifikan mengurangi ketegangan muskuloskeletal yang menumpuk
Penggunaan gadget di kalangan mahasiswa adalah realitas yang tidak dapat dan tidak seharusnya dihilangkan. Yang perlu diubah adalah cara kita menggunakannya. Mahasiswa perlu memahami bahwa layar perangkat mereka memancarkan cahaya yang secara kimiawi menghambat produksi hormon tidur, bahwa setiap notifikasi yang muncul saat mereka belajar dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berkonsentrasi, dan bahwa mempertahankan postur membungkuk di depan layar selama berjam-jam dapat secara kumulatif merusak sistem muskuloskeletal mereka.
Referensi:
- Datta, S., et al. (2022). The relationship between cellphone usage on the physical and mental wellbeing of university students: A cross-sectional study. NCBI/PMC.
- Harvard Health Publishing. (2020). Blue light has a dark side. Harvard Medical School.
- Kaewpradit, K., Ngamchaliew, P., & Buathong, N. (2025). Digital screen time usage, prevalence of excessive digital screen time, and its association with mental health, sleep quality, and academic performance among Southern University students. Frontiers in Psychiatry, 16, 1535631.
- Maulana, A., Rahman, S., & Riduansyah, M. (2025). Pengaruh Gadget Terhadap Pola Tidur Mahasiswa: Literature Review.ย Journal of Mental Health,ย 2(2), 48-57.
- Maulana, Ahmad, Subhannur Rahman, and Muhammad Riduansyah. "Pengaruh Gadget Terhadap Pola Tidur Mahasiswa: Literature Review."ย Journal of Mental Healthย 2.2 (2025): 48-57.
- MAULANA, Ahmad; RAHMAN, Subhannur; RIDUANSYAH, Muhammad. Pengaruh Gadget Terhadap Pola Tidur Mahasiswa: Literature Review.ย Journal of Mental Health, 2025, 2.2: 48-57.