Eni Latifah - STIA Lancang Kuning Dumai (S1)
Eni Latifah - STIA Lancang Kuning Dumai (S1)

Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang semakin serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penggunaan plastik yang praktis, murah, dan mudah ditemukan membuat masyarakat sangat bergantung pada bahan ini dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahannya, plastik memiliki dampak negatif karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami. Dalam lingkungan kampus, mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang cukup sering menggunakan produk berbahan plastik, baik untuk kebutuhan makan, minum, maupun aktivitas lainnya. Kebiasaan yang terlihat sederhana tersebut ternyata dapat menghasilkan jumlah sampah yang besar jika dilakukan secara terus-menerus.

Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa sering kali menggunakan botol minuman plastik sekali pakai, kantong plastik saat berbelanja, sedotan plastik, serta kemasan makanan dari layanan pesan antar. Kebiasaan ini umumnya dilakukan karena alasan kepraktisan dan efisiensi waktu. Namun, tanpa disadari, setiap penggunaan plastik sekali pakai akan menambah jumlah sampah yang harus dikelola. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang membeli satu botol air mineral setiap hari dapat menghasilkan lebih dari 300 botol plastik dalam satu tahun. Jika kebiasaan tersebut dilakukan oleh ribuan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, maka jumlah sampah plastik yang dihasilkan akan sangat besar.

Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan, menyumbat saluran air, dan berpotensi menyebabkan banjir. Selain itu, sampah plastik yang terbawa ke sungai dan laut dapat mengganggu kehidupan biota perairan serta merusak ekosistem. Masalah sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah, tetapi juga dengan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Banyak orang masih menganggap penggunaan plastik sebagai hal yang biasa karena dampaknya tidak langsung terlihat.

Padahal, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat menimbulkan dampak besar bagi lingkungan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perubahan perilaku menjadi langkah penting dalam mengurangi permasalahan ini. Mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai generasi muda yang berpendidikan dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi lingkungan sekitarnya. Melalui edukasi, kampanye lingkungan, dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di kampus maupun masyarakat.

Sampah plastik di kalangan mahasiswa merupakan masalah yang berawal dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan botol minuman, kantong plastik, dan kemasan makanan sekali pakai. Meskipun terlihat kecil, kebiasaan tersebut dapat menghasilkan jumlah sampah yang sangat besar jika dilakukan secara terus-menerus oleh banyak orang. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan tanggung jawab bersama untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melalui langkah sederhana seperti membawa tumbler, menggunakan tas belanja ramah lingkungan, serta mendukung program pengelolaan sampah di kampus, mahasiswa dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak positif yang besar bagi masa depan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

REFERENSI

  • Sirait, Gloria, et al. "Analisis Pemahaman Mahasiswa Terhadap Pengendalian Sampah Plastik Di Perguruan Tinggi." Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat 10.1 (2025): 309-324.
  • Sirait, G., Alexander, I. J., Purba, M. U. M., Siahaan, K. L., & Miranda, X. S. (2025). Analisis Pemahaman Mahasiswa Terhadap Pengendalian Sampah Plastik Di Perguruan Tinggi. Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat, 10(1), 309-324.