
Hari ini, informasi mengalir deras dalam hitungan detik ke ponsel kita. Sayangnya, kemudahan ini ibarat pisau bermata dua; berita hoaks ikut menyebar secepat kilat. Lucunya, banyak dari kita yang langsung menelan mentah-mentah apa yang dibaca tanpa peduli itu fakta atau sekadar opini yang dibungkus rapi. Fenomena ini tentu jadi tamparan keras bagi dunia akademik, terutama mahasiswa. Mengapa kita begitu gampang percaya hoaks?
Di sinilah kita butuh metode ilmiah. Jangan bayangkan riset rumit di laboratorium; metode ilmiah sebenarnya adalah urusan sikap berpikir. Ini adalah kebiasaan sehat untuk tidak langsung percaya sebelum melihat bukti yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
βSikap kritis ini krusial untuk membongkar hoaks kesehatan dewasa ini. Contohnya, marak klaim di media sosial bahwa ramuan herbal tertentu bisa menyembuhkan penyakit kronis secara instan tanpa obat dokter. Tanpa nalar ilmiah, orang dewasa sekalipun akan mudah terjebak pengobatan palsu yang justru memperparah penyakit. Hal yang sama terjadi pada isu lingkungan, seperti anggapan bahwa membakar sampah plastik di halaman rumah itu aman-aman saja. Padahal, asap beracunnya nyata-nyata merusak udara dan kesehatan kita.
Tantangan terbesarnya bukan karena kita kekurangan informasi, melainkan karena jempol kita sering kali bergerak lebih cepat dari pada otak saat membagikan berita. Solusinya sederhana: yuk, mulai cerewet memeriksa sumber berita sebelum menekan tombol share. Pastikan data tersebut valid dari lembaga resmi atau jurnal tepercaya. Sebagai mahasiswa, kita harus mengambil peran sebagai pelopor literasi sains yang meluruskan informasi keliru di tengah masyarakat, bukan malah ikut menjadi korban.
Kesimpulannya, teknologi boleh makin canggih, tapi nalar jangan sampai lumpuh. Melawan hoaks adalah tugas kita bersama. Informasi boleh datang dari mana saja, tetapi logika harus tetap berdiri di atas fakta.
REFERENSl
- Haliq, A., Hafid, A., Asriadi, A., & Nojeng, A. (2025). Tingkat literasi digital: Kemampuan mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks. Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 11(2). https://doi.org/10.30605/onoma.v11i2.5277
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Dampak Membakar Sampah Plastik Secara Terbuka Terhadap Lingkungan dan Kesehatan. KLHK RI.
- βSimanullang, F. N. (2025). Dampak penyebaran berita hoaks melalui platform TikTok: Persepsi Gen-Z di Tanjungpinang. Terang: Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 2(3), 61β77. https://doi.org/10.62383/terang.v2i3.1294