
Di era digital yang selalu terhubung, layar menjadi pusat hidup manusia modern. Dari bangun tidur sampai menutup mata, cahaya biru ponsel, tablet, atau laptop mengisi hampir semua kegiatan. Data We Are Social 2024 mencatat rataβrata orang Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari di depan layar, angka yang melampaui durasi tidur yang dianjurkan. Fenomena bukan sekadar kebiasaan, melainkan sudah berubah menjadi ketergantungan yang mengkhawatirkan.
Ketergantungan pada layar tidak muncul secara tiba-tiba. Algoritma media sosial dibuat untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma media sosial mengirim notifikasi, menampilkan konten terus mengalir, dan memberi reward berupa likes dan komentar. Otak manusia merespons rangsangan dengan melepaskan dopamin, zat kimia yang sama muncul saat kecanduan. Akibatnya, orang merasa gelisah, cemas, bahkan kosong ketika terpisah dari perangkat, meski hanya sebentar. Para psikolog menyebut nomophobia, rasa takut berlebih ketika tidak memegang ponsel.
Menurut saya, fenomena ini terasa kuat di kalangan generasi muda. Pelajar SMA di Dumai melaporkan bahwa belajar menjadi lebih mudah ketika ponsel ada. Namun ponsel justru sering memecah fokus pelajar. Di sisi lain, orang tua sering tanpa sadar memberi gadget kepada anak balita sebagai βpengasuh digitalβ demi ketenangan sesaat. Anakβanak yang tumbuh dengan paparan layar berlebihan mengalami keterlambatan bicara, gangguan tidur, dan kesulitan berinteraksi secara langsung.
Menghadapi dominasi layar tidak harus dengan menghindarinya sepenuhnya. Kita bisa mengelola layar dengan cara yang bijak. Pertama, tetapkan satu jam bebas layar sebelum tidur. Kedua, aktifkan fitur screen time untuk memantau dan membatasi waktu penggunaan. Ketiga, biasakan bergerak, lakukan aktivitas fisik, dan temui orang secara langsung setiap hari. Pemerintah dan sekolah juga harus memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum. Dengan begitu, generasi muda belajar memakai teknologi sebagai alat, bukan sebagai penguasa.
Layar bukan musuh. Tetapi ketika layar mulai mengatur ritme hidup, ia menentukan suasana hati, mengikis waktu bersama keluarga, dan merampas ketenangan batin. Sudah saatnya kita memegang kendali, bukan layar.
REFERENSI
- Hootsuite & We Are Social. (2024). Digital 2024: Indonesia. Diakses dari https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia
- Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2023). Indeks Literasi Digital Nasional 2023. Jakarta: Kominfo.
- Kusuma, R. (2023). Ketergantungan Remaja terhadap Media Sosial dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Jurnal Psikologi Indonesia, 12(2), 45β58.
- Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon, 9(5), 1β6.
- World Health Organization. (2022). Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO.
- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. (2023). Survei Perilaku Digital Masyarakat Indonesia. Jakarta: YLKI.