Amanda Putri - Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang kuning Dumai (S1)
Amanda Putri - Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang kuning Dumai (S1)

Indonesia dikenal memiliki kekayaan hutan tropis terbesar di dunia. Hutan tidak hanya menjadi "paru-paru" dunia, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai macam flora dan fauna. Namun, aktivitas manusia seperti penebangan liar, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, serta pertambangan dan perkebunan menjadi ancaman bagi keberlangsungan hutan di Indonesia.

Data dari GoodStats menunjukkan bahwa luas area hutan Indonesia terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sejak 1990 hingga 2025, Indonesia kehilangan sekitar 20,3 juta hektare hutan akibat berbagai aktivitas manusia seperti deforestasi dan alih fungsi lahan. Penurunan luas hutan tersebut berdampak langsung terhadap habitat dan keberlangsungan hidup fauna di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas lahan berhutan di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau 51,1% dari total daratan. Sementara itu, angka deforestasi netto tercatat sebesar 175,4 ribu hektare, yang menunjukkan adanya peningkatan tren deforestasi.

Kerusakan hutan memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan hidup flora dan fauna. Banyak hewan kehilangan habitatnya, rantai makanan terganggu, dan keanekaragaman hayati pun menurun. Berbagai jenis flora dan fauna langka juga terancam punah akibat rusaknya ekosistem alami. Salah satu contohnya adalah bunga Rafflesia, yang termasuk dalam kategori terancam punah (Ramadhani et al., 2017). Selain itu, Badak Jawa juga mengalami kelangkaan parah—menurut IUCN, populasinya kini hanya berkisar 50 ekor.

Berdasarkan uraian di atas, pemahaman terhadap dampak kerusakan hutan menjadi sangat penting agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan demi keberlangsungan hidup flora dan fauna di Indonesia.

Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta keberlangsungan hidup flora dan fauna. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan hutan tropis yang luas dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, kerusakan hutan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penebangan liar, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, serta eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kondisi kerusakan hutan di Indonesia serta dampaknya terhadap keberlangsungan hidup flora, fauna, dan lingkungan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Ekosistem hutan merupakan kumpulan populasi tumbuhan dan hewan yang hidup di suatu kawasan hutan, membentuk kesatuan ekosistem yang dinamis dengan interaksi kompleks antar elemennya. Hilangnya tutupan hutan membuat banyak tumbuhan dan satwa kehilangan tempat hidup, sumber pakan, dan ruang jelajah sehingga populasinya terus menurun. Dampak lanjutan bagi manusia berupa peningkatan banjir, longsor, kebakaran, konflik manusia–satwa, penurunan kualitas udara dan air, serta kerugian ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.

Berbagai faktor menyebabkan kerusakan hutan, seperti illegal logging, kebakaran hutan, perambahan hutan, dan serangan hama. Dampaknya termasuk perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, gangguan siklus air, banjir, erosi tanah, kekeringan, kerusakan ekosistem, abrasi pantai, kerugian ekonomi, dan penurunan kualitas hidup. Pemerintah telah mengambil langkah untuk mengatasi kerusakan hutan, seperti larangan ekspor kayu bulat, pemberantasan illegal logging, dan rehabilitasi hutan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).

disarankan agar upaya perlindungan kawasan ini terus diperkuat melalui pengawasan yang lebih intensif dan berkelanjutan. Kerusakan hutan dan habitat di Indonesia menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati, rusaknya keseimbangan ekosistem, serta meningkatnya ancaman kepunahan flora dan fauna. reboisasi dan rehabilitasi hutan, penegakan hukum terhadap penebangan dan perambahan liar, pembatasan alih fungsi lahan, penguatan kawasan konservasi, serta edukasi dan pelibatan masyarakat dalam pelestarian hutan. Dalam kajian administrasi publik, seluruh upaya ini perlu diintegrasikan ke kebijakan pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama tanggung jawab terhadap lingkungan dan keadilan sosial bagi komunitas lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan hutan menyebabkan hilangnya habitat alami flora dan fauna, menurunnya keanekaragaman hayati, terganggunya rantai makanan, serta meningkatnya risiko bencana lingkungan seperti banjir, tanah longsor, dan pemanasan global. Selain itu, berbagai spesies tumbuhan dan satwa endemik Indonesia juga mengalami ancaman kepunahan akibat kerusakan ekosistem hutan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian hutan melalui reboisasi, konservasi, penegakan hukum, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia.

Referensi:

  • Ilgiansyah, Yadissabil, et al. "DAMPAK KERUSAKAN HUTAN BAGI KEBERLANGSUNGAN HIDUP FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA." Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 5.3 (2026): 1322-1336.
  • Fitriandhini, Dwi, and Aprizon Putra. "Dampak kerusakan ekosistem hutan oleh aktivitas manusia: Tinjauan terhadap keseimbangan lingkungan dan keanekaragaman hayati." Jurnal Kependudukan dan Pembangunan Lingkungan 3.3 (2022): 217-226.
  • Jurnal Artikel Publisherqu. 2026. “Dampak Kerusakan Hutan bagi Keberlangsungan Hidup Flora dan Fauna di Indonesia.” Jurnal Al-Furqan.
  • Ilgiansyah, Y., Sukma, R., Amelia, H. R., & Pelly, D. A. (2026). DAMPAK KERUSAKAN HUTAN BAGI KEBERLANGSUNGAN HIDUP FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA. Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 5(3), 1322-1336.
  • ILGIANSYAH, Yadissabil, et al. DAMPAK KERUSAKAN HUTAN BAGI KEBERLANGSUNGAN HIDUP FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA. Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 2026,