Nur Insani Qudratillah - Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning Dumai (S1)
Nur Insani Qudratillah - Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning Dumai (S1)

Pendahuluan

Kemajuan teknologi antariksa telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Berbagai aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan internet, navigasi GPS, prakiraan cuaca, siaran televisi, hingga transaksi perbankan, bergantung pada satelit yang mengorbit Bumi. Namun, di balik kemajuan tersebut muncul permasalahan baru yang semakin mengkhawatirkan, yaitu sampah antariksa atau space debris".

Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sampah antariksa merupakan ancaman bagi keselamatan peluncuran satelit maupun satelit yang masih beroperasi. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah sampah antariksa meningkat pesat seiring bertambahnya aktivitas peluncuran wahana antariksa.

Pembahasan

Sampah antariksa adalah benda buatan manusia yang sudah tidak berfungsi dan masih berada di orbit Bumi, seperti satelit mati, sisa peluncuran roket, dan serpihan hasil tabrakan antar satelit. BRIN mencatat bahwa terdapat sekitar 24.000 objek sampah antariksa yang telah terdeteksi, sementara jutaan serpihan berukuran kecil diperkirakan masih belum tercatat.

Meskipun berukuran kecil, sampah antariksa bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga dapat merusak satelit aktif. Kondisi ini dapat mengganggu layanan komunikasi, internet, navigasi, dan pemantauan cuaca yang sangat dibutuhkan masyarakat modern.

Selain itu, sampah antariksa berpotensi memasuki kembali atmosfer re-entry dan jatuh ke Bumi. Indonesia memiliki wilayah yang luas dan garis pantai yang panjang sehingga berpotensi menjadi jalur jatuhnya benda antariksa tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah proyek DEXTER yang dikembangkan oleh sejumlah perusahaan dan universitas di Eropa. Proyek ini bertujuan membongkar satelit lama di orbit dan memanfaatkan kembali materialnya untuk membangun struktur baru atau dijadikan bahan bakar pesawat antariksa.

Solusi dan Saran

Pengelolaan sampah antariksa memerlukan kerja sama internasional. Setiap negara perlu menerapkan aturan peluncuran satelit yang lebih bertanggung jawab serta mengembangkan teknologi pembersih sampah antariksa.

Indonesia juga perlu memperkuat riset dan pemantauan melalui BRIN agar risiko jatuhnya sampah antariksa dapat diminimalkan. Selain itu, mahasiswa perlu meningkatkan literasi sains agar lebih memahami dampak perkembangan teknologi antariksa.

Penutup

Sampah antariksa merupakan konsekuensi dari pesatnya perkembangan teknologi satelit. Meskipun tidak terlihat secara langsung, keberadaannya dapat mengancam satelit dan berbagai layanan penting yang digunakan manusia setiap hari. Oleh karena itu, pemanfaatan ruang angkasa harus dilakukan secara bertanggung jawab agar kemajuan teknologi tetap sejalan dengan keberlanjutan lingkungan antariksa.

Referensi

  • BRIN. "Mengulik Bahaya Sampah Antariksa." Badan Riset dan Inovasi Nasional, 31 Agt. 2022, brin.go.id.\
  • BRIN. "Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa." Badan Riset dan Inovasi Nasional. 2026. https://brin.go.id/orpa
  • O'Callaghan, J. "Rethinking space junk in an age of satellite overload." Horizon Magazine, 7 Apr. 2026, europa.eu.
  • Sabandar, S. "Mengenal Sampah Luar Angkasa dan Potensi Bahayanya." 29 Feb. 2024, Liputan6.com.
  • Proyek DEXTER. (2025). "In-Space Recycling and Reuse of Satellite Materials"