Nabila Safitri - STIA Lancang Kuning (S1)
Nabila Safitri - STIA Lancang Kuning (S1)

Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Gadget seperti smartphone, tablet, dan laptop kini menjadi alat yang hampir selalu digunakan oleh mahasiswa. Berbagai aktivitas akademik, mulai dari mencari referensi, mengikuti perkuliahan daring, mengakses jurnal ilmiah, hingga mengerjakan tugas, dapat dilakukan dengan mudah melalui gadget. Kemudahan tersebut menjadikan gadget sebagai salah satu sarana belajar yang sangat penting di era modern.

Namun, di balik berbagai manfaatnya, penggunaan gadget yang berlebihan mulai menimbulkan berbagai permasalahan. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di depan layar, tidak hanya untuk keperluan akademik, tetapi juga untuk bermain media sosial, menonton video, bermain game , hingga berbelanja secara daring. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik, menurunkan konsentrasi belajar, bahkan berdampak pada prestasi akademik.

Fenomena ini menjadi perhatian karena mahasiswa merupakan generasi yang diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, produktif, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Oleh sebab itu, penggunaan gadget perlu disikapi secara seimbang agar manfaatnya dapat dirasakan tanpa menimbulkan dampak negatif.

Gadget memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran. Mahasiswa dapat memperoleh informasi secara cepat melalui internet, mengakses buku elektronik, jurnal ilmiah, video pembelajaran, hingga berdiskusi dengan dosen dan teman melalui berbagai aplikasi komunikasi. Kehadiran teknologi membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel karena tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.

Akan tetapi, penggunaan gadget secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan fisik. Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah kelelahan mata akibat terlalu lama menatap layar. Mata menjadi kering, pandangan terasa kabur, dan muncul rasa nyeri. Selain itu, posisi duduk yang kurang baik saat menggunakan gadget dapat menyebabkan sakit leher, nyeri bahu, nyeri punggung, hingga gangguan pada pergelangan tangan.

Penggunaan gadget hingga larut malam juga dapat mengganggu kualitas tidur. Cahaya biru yang dipancarkan layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur siklus tidur. Akibatnya, mahasiswa mengalami kesulitan tidur, waktu istirahat berkurang, dan tubuh menjadi mudah lelah ketika mengikuti perkuliahan pada keesokan harinya.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, penggunaan gadget yang berlebihan juga memengaruhi konsentrasi belajar. Banyaknya notifikasi dari media sosial, aplikasi pesan, maupun platform hiburan membuat perhatian mahasiswa mudah teralihkan. Ketika sedang belajar, mahasiswa sering kali berhenti untuk membuka media sosial atau menonton video singkat. Kebiasaan ini menyebabkan proses belajar menjadi tidak efektif karena fokus terus-menerus terganggu.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, prestasi belajar juga dapat mengalami penurunan. Tugas sering dikerjakan mendekati batas waktu pengumpulan, materi kuliah tidak dipahami secara mendalam, dan hasil ujian menjadi kurang optimal. Mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu untuk hiburan dibandingkan memperdalam materi yang dipelajari. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah ikut menurun.

Meskipun demikian, gadget bukanlah penyebab utama menurunnya prestasi belajar. Yang menjadi masalah adalah cara penggunaannya. Apabila digunakan secara bijaksana, gadget justru mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Berbagai aplikasi pendidikan, perpustakaan digital, serta platform pembelajaran daring dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi yang lebih luas dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Menurut penulis, mahasiswa perlu memiliki kesadaran bahwa gadget hanyalah alat, bukan tujuan. Kemajuan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan sekadar menjadi sarana hiburan yang menghabiskan waktu. Pengendalian diri menjadi kunci utama agar penggunaan gadget tetap memberikan manfaat. Dan Mahasiswa dapat mulai menerapkan kebiasaan sederhana, seperti membatasi penggunaan media sosial saat belajar, mengaktifkan mode fokus ketika mengerjakan tugas, mengatur waktu istirahat setelah menatap layar dalam waktu lama, serta meluangkan waktu untuk berolahraga. Dengan cara tersebut, kesehatan fisik tetap terjaga dan konsentrasi belajar dapat meningkat. Selain itu, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi yang sehat dan produktif. Mahasiswa perlu dibekali pemahaman bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola waktu.

REFERENSI

  • American Academy of Ophthalmology. (2020). Computer Vision Syndrome: Digital Eye Strain. https://www.aao.org
  • Arsyad, A. (2019). Media Pembelajaran (Edisi Revisi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal Dampak Penggunaan Gadget terhadap Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Literasi Digital di Lingkungan Perguruan Tinggi. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Prezsky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.
  • Santrock, J. W. (2018). Psikologi Pendidikan (Edisi Indonesia). Jakarta: Salemba Humanika.
  • World Health Organization. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.