
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Saat ini, proses pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku cetak dan papan tulis, tetapi juga memanfaatkan internet, platform pembelajaran digital, dan berbagai perangkat elektronik. Kehadiran teknologi tentu memberikan banyak kemudahan, mulai dari akses informasi yang lebih cepat hingga proses belajar yang lebih fleksibel. Namun, di tengah kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang perlu direnungkan bersama, siapkah teknologi masuk ke ruang kelas?
Persoalan utama dalam digitalisasi pendidikan di Indonesia bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan belum meratanya kesempatan untuk mengakses teknologi tersebut. Kemajuan pendidikan seharusnya tidak hanya dirasakan oleh pelajar yang memiliki fasilitas lengkap, tetapi juga oleh mereka yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Angka tersebut memang menunjukkan perkembangan yang positif, tetapi tingginya penggunaan internet tidak serta-merta menandakan bahwa seluruh masyarakat memiliki kualitas akses yang sama. Masih terdapat perbedaan akses internet, ketersediaan perangkat, serta kemampuan menggunakan teknologi di berbagai daerah di Indonesia.
kondisi ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian pelajar dapat mengikuti pembelajaran dengan laptop yang memadai dan jaringan internet yang stabil. Di sisi lain, masih ada pelajar yang mengandalkan telepon genggam dengan kapasitas terbatas atau mengalami kendala jaringan saat mengakses materi pembelajaran. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, digitalisasi pendidikan justru berpotensi menciptakan kesenjangan baru.
Oleh karena itu, pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mewujudkan pemerataan akses teknologi. Selain penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan literasi digital juga perlu menjadi perhatian. Pemerintah juga terus mendorong transformasi pendidikan melalui program digitalisasi pembelajaran yang menjangkau ratusan ribu sekolah di Indonesia. Upaya tersebut perlu diimbangi dengan pemerataan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh pelajar.
Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak diukur dari banyaknya perangkat yang digunakan di ruang kelas, melainkan dari seberapa banyak pelajar yang dapat merasakan manfaatnya secara setara. Sebab, kemajuan yang sesungguhnya adalah kemajuan yang mampu dirasakan oleh seluruh pelajar tanpa terkecuali.
Referensi
- Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024. Jakarta: BPS.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Percepat Transformasi Pendidikan, Presiden Luncurkan Digitalisasi Pembelajaran untuk 288 Ribu Sekolah.