Nabilla Azura - Ilmu Administrasi Niaga A1 - Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning
Nabilla Azura - Ilmu Administrasi Niaga A1 - Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning

Pendahuluan

Di era digital saat ini, Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Generasi Z. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT dan sejenisnya membuat proses belajar, mencari informasi, dan menyelesaikan tugas menjadi lebih cepat dan praktis. Menurut Yani (2024), AI merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan kualitas mahasiswa di era Society 5.0. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Pembahasan

Dari sisi positif, AI memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran. Teknologi ini membantu mahasiswa mencari referensi, merangkum materi, menerjemahkan teks, serta memahami konsep yang sulit dengan lebih mudah. Kehadiran AI membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien sehingga mahasiswa dapat mengakses berbagai informasi dalam waktu singkat.

Di sisi lain, penggunaan AI yang tidak terkontrol juga menimbulkan tantangan. Maulana et al. (2024), Ulfah (2024), dan Yasmin et al. (2025) menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreativitas mahasiswa. Ketika mahasiswa terlalu sering mengandalkan jawaban instan, mereka menjadi kurang terbiasa menganalisis masalah dan menyusun argumen secara mandiri.

Hal ini dapat ditemukan dalam kehidupan perkuliahan. Sebagian mahasiswa menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas, bahkan ada yang langsung menyalin hasil yang diberikan tanpa memahami isi materi secara mendalam. Padahal, proses mencari referensi, membandingkan pendapat, dan menyusun pemikiran sendiri merupakan bagian penting dalam pembelajaran.

Menurut saya, AI lebih tepat dipandang sebagai teman daripada ancaman bagi Generasi Z. AI dapat menjadi pendamping dalam proses belajar yang membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan produktivitas mahasiswa. Tantangan yang sebenarnya bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Jika dimanfaatkan secara bijak, AI dapat membantu mahasiswa mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.

Solusi dan Saran

AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Mahasiswa perlu tetap memverifikasi informasi dari sumber terpercaya seperti buku dan jurnal ilmiah. Selain itu, dosen dapat memberikan tugas yang menuntut analisis, argumentasi, dan pemecahan masalah agar kemampuan berpikir kritis mahasiswa tetap terasah.

Kesimpulan

AI memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa Generasi Z, terutama dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan dan memengaruhi kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, AI perlu dimanfaatkan secara bijak agar menjadi teman yang mendukung perkembangan mahasiswa, bukan menjadi ancaman dalam proses belajar.

REFERENSI

  • Maula, S. R., Aprillian, S. D., Rachman, A. W., & Azman, M. N. M. (2024). Ketergantungan mahasiswa Universitas Jember terhadap Artificial Intelligence (AI). ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 2(1), 1–14.
  • Maulana, A., Azzahra, S., Kusuma, A. D., & Fadhila, A. I. (2024). Pengaruh Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pengerjaan Tugas Kuliah Terhadap Berpikir Kritis Mahasiswa PAI UNJ. Synergy: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(04), 283–292.
  • Ulfah, M. (2024). Dampak Ketergantungan pada Artificial Intelligence terhadap Kemampuan Analitis dan Kreatif Mahasiswa. VOX EDUKASI: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 15(1), 120–130.
  • Yani, A. (2024). Peran Artificial Intelligence sebagai Salah Satu Faktor dalam Menentukan Kualitas Mahasiswa di Era Society 5.0. Journal of Education Research, 5(2), 1089–1096.
  • Yasmin, K., Awal, R., Azzahra, S., Aini, N., & Marwa, M. (2025).