Studi Kasus: Terjadinya Kepunahan Flora dan Fauna di Habitatnya yang Memiliki Dampak Terhadap Hutan, Perubahan Iklim, dan Kehidupan Manusia
Studi Kasus: Terjadinya Kepunahan Flora dan Fauna di Habitatnya yang Memiliki Dampak Terhadap Hutan, Perubahan Iklim, dan Kehidupan Manusia

Flora dan fauna merupakan dua komponen utama dari keanekaragaman hayati yang habitatnya berada di hutan. Secara umum, flora merupakan sekelompok jenis tumbuhan atau tanaman yang ada di bumi ini. Sedangkan, fauna secara umum segala jenis hewan yang hidup di bumi. Flora dan fauna juga memiliki pesebaran yang sangat luas di Indonesia, sehingga kita sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran sehat dapat melestarikan flora dan fauna di alam. Dari flora dan fauna tersebut merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki habitat di hutan yang seharusnya kita lindungi dan kita menjagai dengan baik.

Tetapi pada akhir – akhir tahun ini banyak sekali tentang mengenai berita maupun artikel, jurnal dan di sosial media terjadinya kerusakan habitat yang seharusnya hutan menjadi tempat tinggal bagi fauna dan flora. Tempat yang di mana menjadi bertumbuh berkembangnya bagi makhluk hidup tersebut tetapi terjadinya kerusakan habitat mereka atau yang dilakukan oleh oknum - oknum tersembunyi untuk melakukan kepentingan pribadi atau perusahaannya. Seperti aktivitas manusia melakukan penebangan liar, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, dan pertambangan atau perkebunan yang secara langsung menjadi ancaman bagi keberlangsungan hutan di Indonesia.

Kerusakan hutan memberikan dampak yang sangat besar terhadap keberlangsungan hidup flora dan fauna. Banyak hewan kehilangan habitatnya. Berbagai jenis flora dan fauna langka juga terancam punah akibat rusaknya ekosistem alami. Bahwa kerusakan hutan menyebabkan hilangnya habitat alami flora dan fauna, menurunnya keanekaragaman hayati, terganggunya rantai makanan, serta meningkatnya risiko bencana lingkungan seperti banjir, tanah longsor, dan pemanasan global. Selain itu, berbagai spesies tumbuhan dan satwa endemik Indonesia juga mengalami ancaman kepunahan akibat kerusakan ekosistem hutan.

Kepunahan flora dan fauna merupakan salah satu bentuk hilangnya keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama aktivitas manusia. Walaupun Indonesia diakui sebagai Negara mega biodiversity, namun Indonesia juga dinilai sebagai negara dengan penurunan keanekaragaman yang tinggi. Satwa liar ini akhirnya akan punah jika tidak ada tindakan penyelamatan. Menurut IUCN (2020) spesies yang terancam punah tersebut umumnya adalah spesies endemis. Spesies endemis merupakan jenis hewan atau tumbuhan asli yang secara alami hanya dapat ditemukan hidup di wilayah geografis Indonesia tertentu. Gangguan dan ancaman terhadap kelestarian flora dan fauna dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu gangguan yang bersifat langsung dan gangguan yang bersifat tidak langsung. Gangguan yang bersifat langsung adalah gangguan yang menyebabkan kematian terhadap flora atau fauna. Gangguan tersebut antara lain berupa pengambilan sejumlah individu spesies tertentu, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk diperjualbelikan dengan tujuan ekonomi sehingga menyebabkan kematian atau penurunan jumlah induvidu suatu spesies. Kegiatan-kegiatan yang bersifat illegal yaitu perburuan liar (illegal hunting), penangkapana ikan secara illegal (illegal fishing), dan penebangan hutan secara illegal (illegal logging).

Gangguan dan ancaman langsung terhadap keanekaragaman flora Indonesia terutama disebabkan oleh hilangnya hutan dan ini merupakan bagian dari gangguan yang bersifat tidak langsung. Gangguan bersifat tidak langsung merupakan faktor yang mengubah atau merusak tatanan ekosistem, sehingga perlahan memutus rantai makanan atau menghilangkan daya dukung kehidupan flora dan fauna. Seperti alih fungsi lahan atau deforestasi yang mengubah hutan menjadi perkebunan, pertambangan atau permukiman yang melakukan menghilangkan habitat, fragmentasi hutan memecah habitat alami menjadi bagian-bagian kecil akibat pembangunan jalan yang menghalangi ruang gerak satwa, dan perubahan iklim yang dapat menggeser suhu global dan pola curah hujan, sehingga tanaman dan hewan kesulitan beradaptasi.

Akhir tahun 1880 an, hampir 90% wilayah Indonesia masih tertutup oleh hutan hujan. Dari tahun 1880 hingga 1980, Indonesia kehilangan 25% tutupan hutannya. Saat ini, sekitar 50% wilayah Indonesia masih tertutup hutan, tetapi sebagian besar dari hutan ini terdiri dari hutan terdegradasi, hutan bekas tebangan, hutan sekunder atau hutan tanaman. Tiga penyebab utama hilangnya hutan di Indonesia adalah penebangan, kebakaran hutan, dan konversi hutan (deforestasi). Ketiga penyebab utama ini saling terkait erat (Cleary and Devantier, 2011). Deforestasi adalah faktor penyebab utama satwa liar di Indonesia terancam, karena hutan adalah habitat alami bagi satwa liar. Hutan terdegradasi atau hutan muda sangat berbeda dengan hutan dewasa (Achard et al., 2002). Spesies endemik jenis hewan atau tumbuhan asli yang secara alami hanya hidup dan berkembang biak di wilayah geografis Indonesia. Namun, kekayaan tersebut menghadapi ancaman yang serius akibat kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebihan. Kerusakan habitat akibat deforestasi dan perubahan fungsi lahan menjadi salah satu penyebab utama hilangnya berbagai spesies. Pramudianto (2018) menjelaskan bahwa ekosistem gambut memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi serta berfungsi penting bagi keseimbangan lingkungan. Kerusakan ekosistem tersebut menyebabkan berkurangnya tempat hidup berbagai spesies sehingga meningkatkan risiko kepunahan.

Selain itu, perubahan iklim juga berkontribusi terhadap menurunnya keanekaragaman hayati. Karmana (2024) menyatakan bahwa perubahan suhu, curah hujan, dan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem menyebabkan perubahan pola reproduksi, distribusi, serta interaksi antar spesies. Kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan meningkatkan laju kepunahan flora dan fauna. Menurut Lubis (2011) menjelaskan bahwa dampak langsung perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati meliputi perubahan persebaran spesies, perubahan waktu reproduksi, gangguan interaksi antarspesies, serta meningkatnya laju kepunahan. Sementara dampak tidak langsungnya dapat memengaruhi ekosistem hutan, pertanian, daerah pesisir, dan wilayah kutub. Dampak dari kepunahan flora dan fauna tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh manusia. Hilangnya spesies tertentu dapat mengganggu rantai makanan, mengurangi kesuburan tanah, menurunkan kualitas udara, serta mempercepat perubahan iklim. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal β€˜Ambio’ menunjukkan bahwa hilangnya fauna hutan tropis berdampak pada ketahanan pangan, kesehatan manusia, pengendalian perubahan iklim, dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan Maraknya kepunahan flora dan fauna juga menunjukkan bahwa upaya perlindungan dan penegakan hukum terhadap lingkungan masih perlu ditingkatkan. Syukur dan Fautngiljanan (2022) menyatakan bahwa kerja sama internasional melalui berbagai perjanjian dan organisasi lingkungan diperlukan untuk mengatasi ancaman kepunahan yang semakin meningkat.

Kepunahan flora dan fauna di habitatnya merupakan permasalahan lingkungan yang memberikan dampak besar terhadap kehidupan di bumi. Hilangnya keanekaragaman hayati dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, mempercepat perubahan iklim, mengancam ketahanan pangan, serta menurunkan kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional untuk menjaga kelestarian lingkungan melalui konservasi habitat, penegakan hukum terhadap perburuan liar, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga flora dan fauna. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dapat tetap terjaga sehingga kehidupan di bumi dapat berlangsung secara berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.