
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia atau disebut negara _megabiodiversity_ (KLHK, 2023). Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki sekitar 10% spesies tumbuhan, 12% mamalia, 16% reptil, dan 17% burung di dunia. Namun kekayaan ini menghadapi ancaman serius. Laju deforestasi, pencemaran lingkungan, perburuan liar, dan perubahan iklim menyebabkan banyak spesies masuk dalam kategori terancam punah (WWF, 2024).
Di tengah tantangan tersebut, muncul aktor baru yang membawa harapan: Generasi Z. Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 dan tumbuh bersama internet serta media sosial (Priyanto & Sari, 2022). Karakteristik Gen Z yang kritis, kolaboratif, dan melek digital membuat mereka memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan isu-isu sosial, termasuk konservasi lingkungan.
Melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, Gen Z mampu menyebarkan informasi konservasi secara cepat, kreatif, dan menjangkau jutaan orang. Selain itu, banyak dari mereka yang mulai menerapkan gaya hidup berkelanjutan dan aktif dalam komunitas lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana peran Gen Z dapat berkontribusi nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia agar tidak hanya berhenti di ranah digital, tetapi juga berdampak di lapangan.
PEMBAHASAN
1. Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Ancamannya
Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkat: keanekaragaman gen, spesies, dan ekosistem (Soemarwoto, 2021). Indonesia memiliki hutan hujan tropis, terumbu karang, dan ekosistem gambut yang menjadi habitat bagi spesies endemik seperti Harimau Sumatra, Orangutan, dan Burung Cenderawasih.
Namun KLHK (2023) mencatat beberapa ancaman utama:
- Alih fungsi lahan untuk sawit, tambang, dan permukiman
- Pencemaran plastik dan limbah industri ke sungai dan laut
- Perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal
- Perubahan iklim yang mengganggu pola migrasi dan habitat
Jika ancaman ini tidak ditangani, keseimbangan rantai makanan akan rusak dan jasa ekosistem seperti air bersih, penyerbukan, dan pengendalian banjir akan hilang (WWF, 2024).
2. Karakteristik Gen Z dan Kepedulian Lingkungan
Gen Z memiliki 3 ciri utama yang relevan dengan konservasi (Priyanto & Sari, 2022):
- Digital Native: Tumbuh dengan teknologi. 1 konten edukasi bisa viral dalam 24 jam.
- Kritis dan Value-Driven: Lebih memilih produk ramah lingkungan dan memboikot brand yang merusak alam.
- Kolaboratif: Suka kerja bareng lewat komunitas dan campaign online.