
Perkembangan teknologi informasi yang pesat dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Gadget seperti smartphone , tablet, dan laptop telah menjadi perangkat utama yang mendukung proses belajar-mengajar, komunikasi dan akses informasi bagi mahasiswa. Namun, dibalik manfaat yang ditawarkan, penggunaan gadget secara berlebihan juga menimbulkan tantangan serius, khususnya terhadap kesehatan fisik dan mental penggunaannya.
Penggunaan gadget secara berlebihan dapat menyebabkan digital eye strain (DES), dengan tandatanda seperti kelelahan pada mata, pandangan yang tidak jelas, mata terasa kering, dan sakit kepala, dan ketegangan pada otot leher. Penelitian oleh Coles-Brennan et al. (2019) menemukan bahwa paparan cahaya biru dari perangkat elektronik dapat meningkatkan risiko kerusakan retina dan mempercepat proses penuaan sel-sel mata. Studi ini menekankan pentingnya penggunaan perangkat elektronik secara bijak, termasuk penggunaan pelindung layar atau filter cahaya biru. Durasi bermain gadget yang panjang, terutama tanpa jeda, berhubungan dengan peningkatan risiko digital eye strain (DES) dan gangguan tidur. Durasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelelahan mata (Ainy, N, 2024)
Menurut penelitian oleh Montag et al. (2016), pengguna gadget yang menghabiskan waktu lebih dari 6 jam sehari memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami phubbing (kecenderungan mengabaikan interaksi sosial untuk menggunakan gadget), yang berkontribusi pada menurunnya kualitas hubungan interpersonal.
Dari aspek kesehatan mental, penelitian menemukan bahwa (45%) mahasiwa menunjukan gejala depresi ringan hingga sedang, dan (50%) mengalami kecemasan tinggi. Tekanan sosial dari media sosial, perbandingan sosial negative, serta ekspektasi untuk selalu terhubung secara digital berkontribusi terhadap ketidakstabilan emosional ini. Selain itu, penurunan fungsi koknitif juga terlihat jelas, dengan (55%) mahasiswa mengalami kesulitan berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas-tugas akademik akibat terganggu oleh notifikasi yang terus-menerus.
Keseluruhan temuan menekankan bahwa penggunaan gadget berlebihan berdampak multimendisional mencangkup fisik, psikologis, koknitif, dan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi yang menyeluruh, tidak hanya penyuluhan dan pelanggaran, tetapi juga pendekatan edukatif, strategis, dan kolaboratif. Penting bagi institusi pendidikan untuk memulai mengembangkan program intervensi berbasis bukti yang tidak hanya mengurangi durasi penggunaan gadget, tetapi juga meningkatkan literasi digital, kesehatan mental, dan kualitas hidup mahasiswa secara holistic.
Penggunaan gadget berlebihan berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan konsentrasi belajar mahasiswa, sehingga diperlukan edukasi, pengawasan, serta penggunaan yang lebih bijak.
Referensi :
- Rinanda, D., Febriyaningrum, D. N., & Nitasari, M. (2025). Strategi Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan pada Kesehatan Fisik dan Mental Mahasiswa Institut Bakti Nusantara Lampung. Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia, 2(3), 108-114.
- Ainy, N., Kurniawan, E., & Batlayeri, H. (2025). Gambaran Perilaku Penggunaan Gadget pada Mahasiswa Akademi Optometri Yogyakarta. Jurnal Optometri Indonesia, 39-48.